IndoNews365 - Sebuah teknik kontroversial dalam ilmu pengetahuan kini berhasil menyelamatkan bayi dari risiko penyakit mematikan sekaligus menciptakan bayi dengan tiga orang tua kandung untuk pertama kali di dunia.
Bayi yang lahir itu disebut memiliki tiga orang tua kandung sebab DNA (materi genetik berwujud asam deoksi-ribonukleat) di selnya terdiri dari DNA ayah, DNA ibu, dan DNA ibu pendonor.
Keberhasilan melahirkan bayi dengan tiga orang tua kandung itu dirayakan karena menjadi bentuk kemajuan dalam mengatasi penyakit bawaan tetapi sekaligus memicu pertanyaan etika.
John Zhang dari New Hope Fertility Center di New York dan timnya melakukan teknik kontroversial untuk membuat bayi dari tiga orang tua kandung dengan maksud mencegah kelahiran bayi dengan penyakit bawaan Leigh Syndrome.
Penyakit itu dijumpai paling tidak pada 1 dari 40.000 kelahiran. Anak penderita penyakit itu akan mengalami penurunan dana kemampuan gerak serta masalah mental.
Sebagian besar penderita penyakit itu akan mati dalam usia 2 atau 3 tahun. Penurunan kemampuan gerak membuat sistem pernafasan gagal bekerja.
Leigh Syndrome dipicu oleh 75 mutasi genetik. Umumnya mutasi terjadi di inti sel. Namun, dalam 1 dari 5 kasus, mutasi terjadi di DNA mitokdonria (bagian sel yang berfungsi menghasilkan energi).
Bagaimana membuat bayi dengan tiga orang tua kandung?
Pada kasus yang ditangani Zhang kali ini, adalah sepasang suami istri Yordania yang berpotensi melahirkan bayi dengan Leigh Syndrome.
DNA mitokondria sang istri mengalami mutasi. Pasangan itu telah mencoba memiliki anak dengan cara normal. Tapi hasilnya, sang istri mengalami 4 keguguran. Plus, dua anak yang lahir mati pada usia 8 bulan dan 6 tahun.
Untuk memberi harapan pada pasangan suami istri itu, upaya yang ditempuh cukup kompleks. Pasalnya, Amerika Serikat tempat Zhang berkarir tidak mengizinkan aplikasi teknik kontroversial yang akan dilakukannya.
Zhang harus pergi ke Meksiko, negara terdekat yang tak punya hukum untuk melarangnya. Sejauh ini, baru Inggris yang menyetujui teknik kontroversial dari Zhang.
Di Meksiko, Zhang memulai proses perbaikan sel telur. Sel telur sang istri dikoleksi. Selanjutnya, inti sel telur sang istri dipindahkan ke sel telur baru dari pendonor. Inti sel telur pendonor sendiri dibuang dan dihancurkan.
Dengan teknik itu, sel telur baru memiliki mitokondria yang sehat dari pendonor. Selanjutnya, sel telur inilah yang akan dibuahi oleh sperma sang ayah lewat fertilisasi in vitro.
Fertilisasi itu menghasilkan 5 embrio. Hanya satu yang berkembang normal. Embrio itulah yang kemudian ditanam ke rahim sang istri.
Sembilan bulan setelah penanaman, bayi dengan tiga orang tua kandung pun lahir. 99,9 persen DNA bayi itu berasal dari ayah dan ibunya sementara 0,1 persen berasal dari ibu kandung.
Kritik
Meski merupakan terobosan dan memberi harapan, teknik Zhang dan rekannya menuai kritik tajam terkait masalah etika.
David King dari Human Genetics Alert mengatakan, langkah Zhang tak bertanggung jawab. "Sungguh kasar mereka dengan gampang mengabaikan aturan di Amerika Serikat dan pergi ke Meksiko karena merasa lebih tahu," katanya.
Keberhasilan kali ini bisa jadi tertangkap media. Namun, mungkin ada banyak kegagalan metode ini yang tak diketahui.
Namun Alison Murdoch dari Newcastle University mengatakan, "Donasi mitokondria bukan perlombaan tetapi tujuan yang harus dicapai dengan penuh kehati-hatian untuk memastikan keamanan dan bisa dilakukan lagi."
Zhang seperti dikutip BBC, Rabu (28/9/2016), akan menerangkan lebih detail dalam American Society for Reproductive Medicine Oktober nanti.
Darren Griffin, pakar genetika University of Kent, mengatakan, "Langkah radikal ini selalu berhadapan dengan soal etika, perhatian etika diperlukan tapi harus seimbang dengan upaya menghalangi aplikasi teknologi ini ketika keluarga membutuhkannya."
Sumber: Kompas.com